Penyesuaian Diri

  1. Pengertian penyesuaian Diri (adjustment)

Menurut Sunarto dan Ny. B Agung Hartono (1999: 222) mengetengahkan pengertian penyesuaian diri adalah proses individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan. Kemudian Syamsu Yusuf dan A. Juntika (2004: 210) menegaskan bahwa pada hakekatnya penyesuaian diri adalah proses tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan baik secara wajar atau tidak wajar dan sadar maupun tidak sadar, dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. Jadi, penyesuaian diri akan terus secara meners dilakukan oleh manusia hal ini bertujuan karena manusia ingin mempertahankan eksistensinya.

  1. Karakteristik Penyesuaian Diri yang Positif

Menurut Hariyadi dkk. (2003:17) terdapat beberapa karakteristik penyesuaian diri yang positif, diantaranya:

  1. Kemampuan menerima dan memahami diri sebagaimana adanya. Karakteristik ini mengandung pengertian bahwa orang yang mempunyai penyesuaian diri yang positif adalah orang yang sanggup menerima kelemahan-kelemahan, kekurangan-kekurangan di samping kelebihan-kelebihannya. Individu tersebut mampu menghayati kepuasan terhadap keadaan dirinya sendiri, dan membenci apa lagi merusak keadaan dirinya betapa pun kurang memuaskan menurut penilaiannya. Hal ini bukan berarti bersikap pasif menerima keadaan yang demikian, melainkan ada usaha aktif disertai kesanggupan mengembangkan segenap bakat, potensi, serta kemampuannya secara maksimal.
  2. Kemampuan menerima dan menilai kenyataan lingkungan di luar dirinya secara objektif, sesuai dengan perkembangan rasional dan perasaan. Orang yang memiliki penyesuaian diri positif memiliki ketajaman dalam memandang realita, dan mampu memperlakukan realitas atau kenyataan secara wajar untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Ia dalam berperilaku selalu bersikap mau belajar dari orang lain, sehingga secara terbuka pula ia mau menerima feedback dari orang lain.
  3. Kemampuan bertindak sesuai dengan potensi, kemampuan yang ada pada dirinya dan kenyataan objektif di luar dirinya. Karakteristik ini ditandai oleh kecenderungan seseorang untuk tidak menyia-nyiakan kekuatan yang ada pada dirinya dan akan melakukan hal-hal yang jauh di luar jangkauan kemampuannya. Hal ini terjadi perimbangan yang rasional antara energi yang di keluarkan dengan hasil yang di perolehnya, sehingga timbul kepercayaan terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.
  4. Memiliki perasaan yang aman dan memadai Individu yang tidak lagi di hantui oleh rasa cemas atau pun ketakutan dalam hidupnya serta tidak mudah di kecewakan oleh keadaan sekitarnya. Perasaan aman mengandung arti pula bahwa orang tersebut mempunyai harga diri yang mantap, tidak lagi merasa terancam dirinya oleh lingkungan dimana ia berada, dapat menaruh kepercayaan terhadap lingkungan dan dapat menerima kenyataan terhadap keterbatasan maupun kekurangan-kekurangan dan lingkungan-nya.
  5. Rasa hormat pada manusia dan mampu bertindak toleran. Karakteristik ini ditandai oleh adanya pengertian dan penerimaan keadaan di luar dirinya walaupun sebenarnya kurang sesuai dengan harapan atau keinginannya.
  6. Terbuka dan sanggup menerima umpan balik karakteristik ini di tandai oleh kemampuan bersikap dan berbicara atas dasar kenyataan sebenarnya, ada kemauan belajar dari keadaan sekitarnya, khususnya belajar mengenai reaksi orang lain terhadap perilakunya.
  7. Memiliki kestabilan psikologis terutama kestabilan emosi. Hal ini tercermin dalam memelihara tata hubungan dengan orang lain, yakni tata hubungan yang hangat penuh perasaan, mempunyai pengertian yang dalam, dan sikapnya wajar.
  8. Mampu bertindak sesuai dengan norma yang berlaku, serta selaras dengan hak dan kewajibannya.
  9. Individu mampu mematuhi dan melaksanakan norma yang berlaku tanpa adanya paksaan dalam setiap perilakunya. Sikap dan perilakunya selalu didasarkan atas kesadaran akan kebutuhan norma, dan atas keinsyafan sendiri.

Individu biasanya akan melakukan penyesuaian diri pada saat berada didalam limgkungan yang baru. Dengan melakukan penyesuaian diri, individu akan merasa nyaman dengan situasi baru yang mereka hadapi. Contoh dari penyesuaian diri adalah ketika seseorang baru pindah rumah, maka individu tersebut harus melakukan penyesuaian diri pada lingkungan rumah yang baru dan menyesuaikan diri pada karakter masing-masing orang yang berbeda-beda. jika ia tidak bisa menyesesuaikan diri dengan lingkungan yang baru tersebut, maka ia akan mengalami hambatan kedepannya.

Sumber:

–  http://eprints.ung.ac.id/3452/3/2013-1-86201-111409056-bab2-25072013082316.pdf (diunduh pada 25 Mei 2014)

–  http://eprints.uns.ac.id/8490/1/132350608201002261.pdf (diunduh pada 25 Mei 2014)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s